Pages

Selasa, 17 Desember 2013

Sifat Rasulullah Saw sebagai Pendidik



Sifat Rasulullah Saw sebagai Pendidik

Selain sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw adalah seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik terbukti Rasulullah telah berhasil mengubah bangsa Arab yang bertabiat kasar menjadi rahib di malam hari, dan para penunggang kuda yang tangguh di siang harinya. Mereka satu sama lain saling mencintai, seperti kecintaan terhadap diri mereka sendiri. Mengutamakan orang lain melebihi dirinya, meski mereka sangat membutuhkannya. Sampai-sampai lawan dan kawan memberikan pengakuan atas perilaku agung mereka. Begitu juga Allah Swt, Dzat Yang Menciptakan mereka, telah menyematkan gelar “umat terbaik” yang dilahirkan untuk manusia; mereka senantiasa menegakkan kemakrufan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Alla Swt.
Kesuksesan Rasulullah dalam mendidik bangsa Arab, selain dengan strategi pendidikan yang jitu, tentu tidak lepas dari sifat-sifat teladan beliau sebagai seorang pendidik. Profesor Doktor Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, dalam kitabnya, “Dirasah Tahliliyah li Syakhsiyyah ar-Rasul Muhammad”, menjelaskan setidaknya ada delapan sifat Rasulullah yang harus jadi teladan para pendidik agar sukses dalam mendidik masyarakat.
Pertama, Kasih Sayang
Sifat ini wajib dimiliki oleh setiap pendidik. Karenanya, orang yang hatinya keras, tidak layak menjadi pendidik. Sebab, kasih sayang ini merupakan perasaan sensitif yang secara otomatis bisa mendorong pendidik untuk tidak suka meringankan beban orang yang dididiknya.
Ketika membicarakan sifat-sifat Rasulullah saw, kita akan menyaksikan, bagaimana beliau memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak kecil di belakang shaf (barisan), karena kasih sayang beliau kepada ibunya yang merasakan kepedihan tangis anaknya.
Kita juga bisa menyaksikan bagaimana beliau telah menerima penganiayaan orang-orang musyrik Makkah, dan di Thaif pun beliau mendapatkan hal yang sama, ketika beliau didatangi malaikat penunggu gunung agar diperintahkan untuk menghancur leburkan suku Tsaqif, yang telah menghina dan menganiaya beliau, maka perasaan kasih sayang yang memenuhi kalbu beliau, sang pendidik agung itu pun tergerak, kemudian beliau mengubah adzab dengan doa untuk mereka, “Semoga Allah melahirkan dari generasi mereka, orang yang menyembah-Nya.”
Anas bin Malik juga pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang begitu menyayangi keluarganya, melebihi Rasulullah saw.”
Kedua, Sabar
Sabar adalah bekal setiap pendidik. Setiap pendidik yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan celaka, atau kembali.
Jika kita menelusuri biografi sang pendidik agung, Nabi saw ini, kita akan melihat bahwa beliau merupakan lambang kesabaran yang patut dikibarkan, sabar terhadap penganiayaan kaumnya yang dilakukan terhadap tubuh beliau, juga penyiksaan mereka terhadap nyawa beliau, sampai urusan (yang beliau emban) itu nampak jelas di hadapan mereka, dan kecemerlangan tujuan beliau pun terlihat dengan jelas di depan mata mereka. Maka, kebencian mereka kepada beliau pun berubah menjadi cinta, dan penganiayaan mereka berubah menjadi kasih sayang.
Ketiga, Cerdas
Seorang pendidik harus pandai dan cerdas (fathanah), sehingga dia bisa menganalisis masalah obyek didiknya yang sangat rumit. Jika masalah tersebut baik, dia bisa menjadikannya sebagai cara terbaik bagi obyek didik tersebut untuk mengembangkannya. Dan jika masalah tersebut buruk, dia bisa memilih cara terbaik untuk menyelesaikannya. Dia juga bisa menganalisis apa yang relevan dan tidak dengan obyek didiknya. Dia juga bisa memahami emosi jiwanya dengan melihat raut mukanya. Juga bisa memahami perbedaan-perbedaan pribadi di antara mereka yang begitu rumit. Sebab, tugasnya adalah menyelami relung jiwanya melalui perbedaan-perbedaan tersebut, atau memanfaatkannya dengan maksimal untuk mengarahkan tiap individu pada hal-hal yang bisa diraihnya.
Rasulullah saw sebagai utusan Allah swt telah dihujani oleh Allah dengan sifat kecerdasan sebagai fitrah asal beliau. Seluruh analisis yang menganalisis kepribadian Rasulullah saw dan para ulama ushuluddin telah sepakat bahwa Rasulullah saw secara pribadi, serta Rasul-rasul yang lain mempunyai sifat cerdas.
Keempat, Tawadhu
Seorang pendidik harus bersikap tawadhu kepada obyek didiknya. Sebab, kesombongannya hanya akan menambah jarak antara dirinya dengan obyek didiknya. Dan, ketika jarak tersebut semakin renggang, maka pengaruhnya akan hilang.
Rasulullah saw – sebagai penghulu para pendidik – adalah orang yang paling tawadhu, hingga begitu tawadhunya sampai ketika beliau bertemu anak-anak, beliaulah yang terlebih dulu mengucapkan salam kepada mereka. Hingga ketika salah seorang budak perempuan Madinah meraih tangan Rasulullah saw, dia pun bisa menggapainya dengan sesuka hatinya. Bahkan, ketika beliau bertemu seorang lelaki, beliau pun menyalaminya, dan tidak melepaskan tangan beliau sampai lelaki itu melepaskan tangannya. Beliau juga tidak memalingkan mukanya sampai lelaki itu memalingkan mukanya.

Kelima, Berhati Lembut (Hilm)

Seorang pendidik harus berlapang dada dan berhati lembut (hilm). Dia tidak boleh dihasut oleh kesalahan, bahkan oleh penghinaan yang ditujukan kepadanya. Tetapi, dia harus menyimpannya kemudian mengemukakannya dengan nada meremehkannya. Setelah itu, dia harus mengarahkan perhatiannya untuk memecahkan faktor penyebab kesalahan tersebut.
Rasulullah saw adalah orang yang paling berhati lembut, hingga tak seorang pun bisa menghina beliau. Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik yang bertutur: “Saya pernah berjalan dengan Rasulullah saw dan beliau memakai selimut buatan Najran, yang kulit luarnya kasar. Ketika beliau diketahui oleh orang Badui, tiba-tiba orang tersebut menarik selendang (syal) beliau dengan tarikan yang sangat kuat, sehingga saya melihat leher Rasulullah saw meninggalkan bekas kulit selimut akibat kuatnya tarikan tadi. Kemudian orang tersebut berkata: ‘Wahai Muhammad, berikan kepadaku harta Allah yang kamu miliki. – dalam riwayat lain dinyatakan: Anda tidak membawakan untukku dari harta anda, dan juga harta bapak anda – Rasulullah kemudian menoleh kepadanya, dan tertawa, lalu memerintahkan agar dia diberi (harta benda).”
Keenam, Pemaaf dan Pengampun
Kelembutan hati Rasulullah saw tatkala perlakuan buruk ditujukan kepada pribadi beliau membuat beliau selalu menyertainya dengan ampunan dan pemberian maaf kepada pelakunya, agar orang itu bisa memulai kembali kehidupan barunya.
Rasulullah saw telah memaafkan orang Yahudi yang menyihirnya. Beliau juga telah memaafkan seorang wanita yang telah menaburkan serbuk racun dalam daging kambing yang disajikan kepada beliau. Beliau juga memaafkan Ghaurats yang berniat membunuh beliau. Demikian juga memaafkan orang yang berbuat nista kepada beliau, termasuk orang Badui yang telah menaik syalnya hingga kulit selimutnya membekas di leher beliau. Beliau juga bisa memaafkan orang Badui yang diberi sesuatu oleh Rasul, kemudian beliau tanya: “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu?” Dia menjawab: “Tidak. Dan anda pun tidak pernah berbuat baik.”
Beliau juga telah memaafkan penduduk Makkah setelah mereka menganiaya dan mengusir beliau dari negerinya, serta memerangi beliau di mana saja beliau berada. Beliau bersabda kepada mereka, “Tak ada celaan sedikit pun yang layak ditujukan kepada kalian. Pergilah, kalian semuanya bebas.”
Ketujuh, Kepribadian yang Kuat
Syarat bagi seorang pendidik harus mempunyai kepribadian yang kuat, tidak cacat dan diragukan agar berpengaruh terhadap obyek didiknya. Kepribadian yang kuat tidak memerlukan banyak hukuman (sanksi), sebaliknya bisa mencegah terjadinya banyak kesalahan serta mampu menanamkan keyakinan dalam diri.
Rasulullah saw benar-benar mempunyai kekuatan pribadi, yang bisa beliau gunakan untuk menghujani hati musuh-musuh beliau dengan keyakinan, begitu pertama kali bertemu dengan beliau. Telah dituturkan mengenai sifat beliau, “Orang yang melihat beliau pasti kagum kepada beliau.”
Kedelapan, Percaya Sepenuhnya (Iqtina) pada Tugas Pendidikan
Istilah para pengkaji mengenai sifat ini berbeda-beda. Ada yang menyebutnya dengan: Iman (keyakinan penuh), tetapi ada juga yang menyebutnya dengan: hubb al-amal (cinta pada tugas), dan ada juga yang menyebutnya dengan: iqtina bi al-amal (percaya penuh pada tugas).
Sifat ini merupakan prasyarat yang harus dipenuhi oleh pendidik. Sebab, pendidikan merupakan kontribusi mental dan spiritual. Jika seorang pendidik tidak percaya sepenuhnya dengan tugas pendidikannya, niscaya tidak akan mampu memberikan kontribusi ini. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar